Kamis, 18 Agustus 2011

komunikasi terapeutik pada pasien gangguan motorik


BAB I
PENDAHULUAN
1.    Latar Belakang
Di Indonesia kita mengenal beberapa profesi yang berhubungan dengan kesehatan.Contohnya saja kesehatan masyarakat yang lebih fokus pada pencegahan penyakit atau tenaga medis seperti dokter, perawat, dan bidan yang berperan dalam pengobatan perawatan.Selama ini paradigma yang melekat pada perawat terkesan mencoreng citra perawat sebagai tenaga medis.Banyak keluhan masyarakat seusai mendapatkan perawatan di rumah sakit.Ada yang mengeluhkan keprofesionalan perawat maupun sikap yang kurang menyenangkan, terlebih pada pasien rujukan puskesmas atau pemegang kartu jamkesmas. Padahal setiap institusi yang memberikan pendidikan keperawatan, termasuk School of Nursing di salah satu perguruan tinggi negeri, selalu membekali peserta didiknya untuk bertindak profeesional dengan memberikan pelayanan terbaik.
Seperti halnya guru atau polisi, perawat juga bergerak di bidang pelayanan dan pengabdian masyarakat.Akan tetapi berbeda dengan ibu guru atau bapak polisi yang mendapat pengharagaan/srata sosial yang tinggi di mata masyarakat dalam hal ini profesi perawat sering dipandang remeh oleh masyarakat luas padahal di luar negeri seperti swis dan jepang sosok perawat sangatlah dihargai. Sementara di Indonesia mereka sering di anggap sebagai pembantu dokter bukan rekan dokter, padahal 80% kesembuhan pasien ditentukan dari keberhasilan perawat dalam memberikan perawatan secara medis baik fisik maupun psikis. Untuk itu setiap perawat perlu memiliki ketrampilan khusus untuk menambah nilai plus pada dirinya.Salah satunya adalah dengan menguasai komunikasi terapeutik.Komunikasi terapeutik adalah pendekatan secara psikologis yang dilakukan atau dirancang untuk tujuan terapi. Meskipun kesembuhan fisik menjadi tujuan utama dari setiap tindakan medis akan tetapi perawatan secara psikologis (salah satunya melalui komunikasi terapeutik) juga perlu dilakukan sebagai penyeimbang.
Keterampilan berkomunikasi merupakan critical skill yang harus dimiliki oleh seorang perawat dan merupakan bagian integral dari asuhan keperawatan. Komunikasi dalam keperawatan disebut dengan komunikasi terapeutik, yang merupakan komunikasi yang dilakukan oleh seorang perawat pada saat melakukan intervensi keperawatan sehingga memberikan khasiat terapi bagi proses penyembuhan pasien. Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi yang terstruktur yang terdiri dari empat tahap yaitu fase pra-interaksi, fase orientasi, fase kerja dan fase terminasi.
            Untuk lebih detailnya lagi didalam makalah ini kami akan membahas tentang komunikasi terapeutik pada penderita ganggaun motoric.

2.    Rumusan Masalah
1.    Apa yang dimaksud dengan terapi terapeutik…?
2.    Apa tujuan dari komunikasi terapeutik..?
3.    Apa yang Ciri Komunikasi Terapeutik..?
4.    Apa saja yang menjadi Unsur Komunikasi Terapeutik..?
5.    Bagaimana Prinsip Komunikasi Terapeutik..?
6.    Bagaimana Teknik Menjalin Hubungan dengan Pasien..?
7.    Bagaimana Metode Komunikasi Terapeutik..?
8.    Jelaskan Tahap Interaksi dengan Pasien..?
9.    Bagaimana tahap komunikasi terapeutik terhadap gangguan mototric..?
10. Apa saja factor pengahambat komunikasi terapeutik..?

3.    Tujuan
Untuk mengenal dan mengetahui bagaimana  cara melakukan komunikasi terapeutik.
Untuk mengetahui apa saja yang perlu dilakukan dan dipersiapkan dalam menghadapi penderita gangguan motoric.
mengetahui apa saja yang haru perawat lakukan dalam mlakukan komunikasi terapeutik.

BAB II
PEMBAHASAN
1.    Definisi Komunikasi Terapeutik
Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yg direncanakan secara sadar, bertujuan dan dipusatkan untuk kesembuhan pasien.Komunikasi terapeutik mengarah pada bentuk komunikasi interpersonal.
Northouse (1998: 12), komunikasi terapeutik adalah kemampuan atau keterampilan bidan untuk membantu pasien beradaptasi terhadap stres, mengatasi gangguan psikologis, dan belajar bagaimana berhubungan dengan orang lain.
Stuart G.W. (1998), komunikasi terapeutik merupakan hubungan interpesonal antara bidan dengan pasien, dalam hubungan ini bidan dan pasien memperoleh pengalaman belajar bersama dalam rangka memperbaiki pengalaman emosional pasien.


2.    Tujuan Komunikasi Terapeutik
Adapun beberapa tujuan dari komunikasi terpeutik yang dilakukan oleh perawat maupun tim medis lainya adalah sebagai berikut:
·         Membantu pasien memperjelas dan mengurangi beban perasaan serta pikiran.
·         Membantu mengambil tindakan yang efektif untuk pasien.
·         Membantu mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan diri sendiri.

Menurut Stuart, tujuan terapeutik diarahkan pada pertumbuhan klien :
·         Realisasi diri, penerimaan diri dan rasa hormat pada diri sendiri.
·          Identitas diri yang jelas dan integritas diri yang tinggi.
·         Kemampuan membina hubungan interpersonal yang intim, saling tergantung dan mencintai.
·         Peningkatan fungsi dan kemampuan yang memuaskan kebutuhan serta mencapai tujuan personal yang realistis.


3.    Manfaat Komunikasi Terapeutik
Adapula manfaat dari komunikasi terapeutik adalah :
·         Mendorong dan menganjurkan kerjasama antara perawat-pasien.
·         Mengidentifikasi, mengungkap perasaan dan mengkaji masalah serta mengevaluasi tindakan yang dilakukan bidan.
·         Memberikan pengertian tingkah laku pasien dan membantu pasien mengatasi masalah yang dihadapi.
·         Mencegah tindakan yang negatif terhadap pertahanan diri pasien.


4.    Ciri Komunikasi Terapeutik
Komunikasi terapeutik mempunyai ciri sebagai berikut :
·         Terjadi antara perawat dengan pasien,
·         Mempunyai hubungan akrab dan mempunyai tujuan, 
·         Berfokus pada pasien yang membutuhkan bantuan,
·         Perawat  dengan aktif, mendengarkan dan memberikan respon pada pasien.


5.    Unsur Komunikasi Terapeutik
Adapun komunikasi terapeutik mempunyai unsur sebagai berikut :
1) Ada sumber proses komunikasi;
 2) Pesan disampaikan dengan penyandian balik (verbal & non verbal);
3) Ada penerima;
 4) Lingkungan saat komunikasi berlangsung.


6.    Prinsip Komunikasi Terapeutik (Menurut Carl Rogers)
Komunikasi terapeutik mempunyai prinsip – prinsip antara lain :
·         Perawat  sebagai tenaga kesehatan harus mengenal dirinya sendiri,
·         Komunikasi ditandai dengan sikap menerima, percaya dan menghargai,
·         Perawat  sebagai tenaga kesehatan harus paham, menghayati nilai yang dianut pasien,
·         Perawat  sebagai tenaga kesehatan harus sadar pentingnya kebutuhan pasien,
·         Perawat  sebagai tenaga kesehatan harus menciptakan suasana agar pasien berkembang tanpa rasa takut,
·         Perawat  sebagai tenaga kesehatan menciptakan suasana agar pasien punya motivasi mengubah diri,
·         Perawat  sebagai tenaga kesehatan harus menguasai perasaannya sendiri,
·         Mampu menentukan batas waktu yang sesuai dan konsisten,
·         Perawat  harus paham akan arti empati,
·         Perawat  harus jujur dan berkomunikasi secara terbuka,
·         Perawat  harus dapat berperan sebagai role model,
·         Mampu mengekspresikan perasaan,
·         Altruisme (panggilan jiwa) untuk mendapatkan kepuasan dengan menolong orang lain,
·         Berpegang pada etika,
·         Tanggung jawab


7.    Teknik Menjalin Hubungan dengan Pasien
Syarat dasar komunikasi menjadi efektif (Stuart, 1998) adalah :
·         Komunikasi ditujukan untuk menjaga harga diri pemberi dan penerima pesan.
·         Komunikasi dilakukan dengan saling pengertian sebelum memberi saran, informasi dan masukan.


8.    Metode Komunikasi Terapeutik
Metode  komunikasi terapeutik adalah :
a.    Mendengar dengan penuh perhatian
Usaha bidan mengerti pasien dengan cara mendengarkan masalah yang disampaikan pasien. Sikap bidan : pandangan ke pasien, tidak menyilangkan kaki dan tangan, menghindari gerakan yang tidak perlu, tubuh condong ke arah pasien.
b.    Menunjukkan penerimaan
Mendukung dan menerima informasi dengan tingkah laku yang menunjukkan ketertarikan dan tidak menilai. Sikap bidan : mendengarkan tanpa memutuskan pembicaraan, memberikan umpan balik verbal.
c.    Menanyakan pertanyaan yg berkaitan
Dengan Tujuan : mendapatkan informasi yang spesifik mengenai masalah yang disampaikan pasien.
d.    Mengulang ucapan pasien dengan kata-kata
Pemberian feedback dilakukan setelah bidan melakukan pengulangan kembali kata kata pasien.
e.    Mengklarifikasi
Tujuan : untuk menyamakan pengertian.
f.     Memfokuskan
Untuk membatasi bahan pembicaraan sehingga percakapan lebih spesifik dan dimengerti.
g.    Menyatakan hasil observasi
Bidan memberikan umpan balik pada pasien dengan menyatakan hasil pengamatannya sehingga pasien dapat menguraikan apakah pesannya diterima atau tidak.
h.    Menawarkan informasi
Memberi tambahan informasi merupakan tindakan penyuluhan kesehatan untuk pasien.
i.      Diam
Memberikan kesempatan pada bidan untuk mengorganisasikan pikiran dan memproses informasi.
j.      Meringkas
Pengulangan ide utama yang telah dikomunikasikan secara singkat. Manfaat : membantu, mengingat topik yang telah dibahas sebelum melanjutkan pembicaraan.
k.    Memberikan penghargaan
Teknik ini tidak digunakan untuk menyatakan hal yang baik dan buruk.
l.      Menawarkan diri
Menyediakan diri Anda tanpa respon bersyarat atau respon yang diharapkan; Memberi kesempatan kepada pasien untuk memulai pembicaraan; Memberi kesempatan kepada pasien untuk berinisiatif dalam memilih topik pembicaraan.
m.  Menganjurkan untuk meneruskan pembicaraan
Tujuan :
1) Memberi kesempatan pasien untuk mengarahkan seluruh pembicaraan, menafsirkan diskusi, bidan mengikuti apa yg sedang dibicarakan selanjutnya.
2) Menempatkan kejadian dan waktu secara berurutan.
3) Menguraikan kejadian secara teratur akan membantu bidan dan pasien untuk melihat dalam suatu perspektif.
4) Menemukan pola kesukaran interpersonal klien.
n.    Menganjurkan klien untuk menguraikan persepsi
Bidan harus dapat melihat segala sesuatu dari perpektif pasien.
o.    Perenungan
Memberikan kesempatan untuk mengemukakan dan menerima ide serta perasaannya sebagai bagian dari dirinya sendiri.



9.    Tahap Interaksi dengan Pasien
Komunikasi terapeutik yang terjadi antara perawat dan klien harus melalui empat tahap meliputi fase pra-interaksi, orientasi, fase kerja dan fase terminasi.Agar komunikasi terapeutik antara perawat dan klien dapat berjalan sesuai harapan, diperlukan strategi yang harus dilakukan oleh perawat pada saat melakukan komunikasi terpeutik dengan kliennya.
a.    Pre interaksi
Pre interaksi adalah masa persiapan sebelum mengevaluasi dan berkomunikasi dengan pasien. Pada masa ini bidan perlu membuat rencana interaksi dengan pasien yaitu : melakukan evaluasi diri, menetapkan tahapan hubungan/ interaksi, merencanakan interaksi.
                                                Tugas perawat pada tahap ini
            1.Menggali perasaan
            2.Mengidentifikasi kelebihan dan kekurangannya
            3.Mencari informasi tentang klien
            4.Merancang strategi pertemuan dengan klien

Kecemasan yang dialami seseorang dapat sangat mempengaruhi interaksinya dengan orang lain (Ellis, Gates dan Kenworthy, 2000 dalam Suryani, 2005). Hal ini disebabkan oleh adanya kesalahan dalam menginterpretasikan apa yang diucapkan oleh lawan bicara. Pada saat perawat merasa cemas, dia tidak akan mampu mendengarkan apa yang dikatakan oleh klien dengan baik (Brammer, 1993 dalam Suryani, 2005) sehingga tidak mampu melakukan active listening (mendengarkan dengan aktif dan penuh perhatian).

b.    Perkenalan
Perkenalan Adalah kegiatan yang dilakukan saat pertama kali bertemu. Hal yang perlu dilakukan perawat  adalah : memberi salam; memperkenalkan diri; menanyakan nama pasien; menyepakati pertemuan (kontrak); melengkapi kontrak; menyepakati masalah pasien; mengakhiri perkenalan.
Tugas perawat pada tahap ini
1.Membina rasa saling percaya, menerima dan terbuka
2.Membuat kesepakatan dengan pasien
3.Mengidentifikasi masalah pasien

c.    Orientasi
Fase ini dilakukan pada awal setiap pertemuan kedua dst. Tujuan : memvalidasi keakuratan data, rencana yang telah dibuat dengan keadaan pasien dan mengevaluasi hasil tindakan yg lalu. Hal yang harus diperhatikan : memberi salam; memvalidasi keadaan psien; mengingatkan kontrak.

d.    Fase kerja
Merupakan inti hubungan perawat-klien yang terkait erat dengan pelaksanaan rencana tindakan keperawatan yang dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai.
                                    Tugas perawat pada tahap ini
1. Mengklarifikasi dan mengidentifikasi masalah
2. Menggali alternatif pemecahan masalah
3. Memfasilitasi perubahan perilaku pasien
                        4. Memfasilitasi pasien untuk bertindak

e. Fase terminasi
Merupakan akhir dari setiap pertemuan perawat dengan pasien. Klasifikasi terminasi :
1) Terminasi sementara : akhir dari tiap pertemuan perawat dengan pasien; terdiri dari tahap evaluasi hasil, tahap tindak lanjut dan tahap untuk kontrak yang akan datang.
2)Terminasi akhir : terjadi jika pasien akan pulang dari rumah sakit atau bidan selesai praktik. Isi percakapan antara bidan dengan pasien meliputi tahap evaluasi hasil, isi percakapan tindak lanjut dan tahap eksplorasi perasaan.
Tugas perawat pada tahap ini :
1. Evaluasi objektif
2. Evaluasi subjektf
3. Menyepakati tindak lanjut
4. Membuat janji untuk pertemuan berikutnya

Contoh pada kasus Berikut ini akan dijelaskan mengenai strategi pada setiap tahapan komunikasi terapeutik sesuai dengan pemicu 1 yaitu antara perawat A dan anak penderita gangguan motoric dengan masalah anak Nyang pemalu dan menutup diri :
a. Fase pra-interaksi
Strategi komunikasi yang harus dilakuakn perawat A dalam tahapan ini adalah:
·         Mengeksplorasi perasaan, mendefinisikan harapan dan mengidentifikasi kecemasan .
·         Menganalisis kekuatan dan kelemahan diri.
·         Mengumpulkan data dan informasi tentang anak dari keluarga terdekatnya.
·         Merencanakan pertemuan pertama dengan anak N dengan bersikap positif dan menghindari prasangka buruk terhadap klien di pertemuan pertama.

b. Fase orientasi
Strategi yang dapat dilakukan perawat A dalam tahapan ini adalah:
·         Membina rasa saling percaya dengan menunjukkan penerimaan dan komunikasi terbuka terhadap anak N dengan tidak membebani diri dengan sikap anank N yang melakukan penolakan diawal pertemuan.
·         Merumuskan kontrak (waktu, tempat pertemuan, dan topik pembicaraan) bersama-sama dengan klien dan menjelaskan atau mengklarifikasi kembali kontrak yang telah disepakati bersama. Perawat A dapat menanyakan kepada keluarga anak N mengenai topik pembicaraan yang mungkin akan menarik bagi anak N.
·         Mengeksplorasi pikiran, perasaan dan perbuatan serta mengidentifikasi masalah klien yang umumnya dilakukan dengan menggunakan teknik komunikasi pertanyaan terbuka. Ketika anak N diam saja atau memalingkan muka, perawat A bisa menanyakan apakah anak Napa yang membuat anak N merasa tidak nyaman.
·         Merumuskan tujuan interaksi dengan klien. Pada pertemuan awal dengan anak N, perawat A memiliki tujuan untuk menumbuhkan rasa saling percaya dengan kliennya. Maka, perawat A harus berusaha agar tujuan awal tersebut dapat tercapai.

c. Fase kerja
            Strategi yang dapat dilakukan perawat A terhadap anak N ialah mengatasi penolakan perilaku adaptif anak N dengan cara menciptakan suasana komunikasi yang nyaman bagi anak N dengan cara:
a) Berhadapan dengan lawan bicara.Dengan posisi ini perawat menyatakan kesiapannya (”saya siap untuk anda”).
b) Sikap tubuh terbuka; kaki dan tangan terbuka (tidak bersilangan)
Sikap tubuh yang terbuka menunjukkan bahwa perawat bersedia untuk mendukung terciptanya komunikasi.
c) Menunduk/memposisikan tubuh kearah/lebih dekat dengan lawan bicaraHal ini menunjukkan bahwa perawat bersiap  untuk merespon dalam komunikasi (berbicara-mendengar).
d) Pertahankan kontak mata, sejajar, dan natural. Dengan posisi mata sejajar perawat menunjukkan kesediaannya untuk mempertahankan komunikasi.
e) Bersikap tenang. Akan lebih terlihat bila tidak terburu-buru saat berbicara dan menggunakan  gerakan/bahasa tubuh yang natural.

Tahap kerja merupakan tahap yang terpanjang dalam komunikasi terapeutik karena didalamnya perawat dituntut untuk membantu dan mendukung klien untuk menyampaikan perasaan dan pikirannya dan kemudian menganalisa respons ataupun pesan komunikasi verbal dan non verbal yang disampaikan oleh klien.Dalam tahap ini pula perawat mendengarkan secara aktif dan dengan penuh perhatian sehingga mampu membantu klien untuk mendefinisikan masalah yang sedang dihadapi oleh klien, mencari penyelesaian masalah dan mengevaluasinya.
Dibagian akhir tahap ini, perawat diharapkan mampu menyimpulkan percakapannya dengan klien. Teknik menyimpulkan ini merupakan usaha untuk memadukan dan menegaskan hal-hal penting dalam percakapan, dan membantu perawat dan klien memiliki pikiran dan ide yang sama (Murray,B. & Judith,P,1997 dalam Suryani,2005). Dengan dilakukannya penarikan kesimpulan oleh perawat maka klien dapat merasakan bahwa keseluruhan pesan atau perasaan yang telah disampaikannya diterima dengan baik dan benar-benar dipahami oleh perawat.

d. Fase terminasi
Tugas perawat dalam tahap ini adalah:
·         Mengevaluasi pencapaian tujuan dari interaksi yang telah dilaksanakan (evaluasi objektif). Brammer dan McDonald (1996) menyatakan bahwa meminta klien untuk menyimpulkan tentang apa yang telah didiskusikan merupakan sesuatu yang sangat berguna pada tahap ini.
·         Melakukan evaluasi subjektif dengan cara menanyakan perasaan klien setelah berinteraksi dengan perawat. Perawat A bisa langsung menanyakan perasaan anak N dalam setiap akhir pertemuan dengannya.
·         Menyepakati tindak lanjut terhadap interaksi yang telah dilakukan. Tindak lanjut yang disepakati harus relevan dengan interaksi yang baru saja dilakukan atau dengan interaksi yang akan dilakukan selanjutnya. Tindak lanjut dievaluasi dalam tahap orientasi pada pertemuan berikutnya.


10. Faktor Penghambat Komunikasi Terapeutik
Komunikasi terapeutik dapat mengalami hambatan diantaranya :
·         Pemahaman berbeda;
·         Penafsiran berbeda;
·         Komunikasi yang terjadi satu arah;
·         Kepentingan berbeda;
·         Pemberian jaminan yang tidak mungkin;
·         Bicara hal-hal yang pribadi;
·         Menuntut bukti, penjelasan dan tantangan;
·         Mengalihkan topik pembicaran;
·         Memberikan kritik mengenai perasaan pasien;
·         Terlalu banyak bicara;
·         Memperlihatkan sifat jemu dan pesimis.


11. Komunikasi Terapeutik dalam Kesehatan
Komunikasi terapeutik dalam keperawatan meliputi :
a.    Pengkajian
Menentukan kemampuan dalam proses informasi; mengevaluasi data tentang status mental pasien; mengevaluasi kemampuan pasien dalam berkomunikasi; mengobservasi kejadian yang terjadi; mengidentifikasi perkembangan pasien; menentukan sikap pasien; mengkaji tingkat kecemasan pasien.
b.    Rencana tujuan
Membantu pasien untuk memenuhi kebutuhan sendiri; membantu pasien menerima pengalaman; meningkatkan harga diri pasien; memberi support; tenaga kesehatan dan pasien sepakat untuk berkomunikasi secara terbuka.
c.    Implementasi
Memperkenalkan diri pada pasien; memulai interaksi dengan pasien; membantu pasien mendapatkan gambaran pengalamannya; menganjurkan pasien untuk mengungkapkan perasaan; menggunakan komunikasi untuk meningkatkan harga diri pasien.
d.    Evaluasi
Pasien dapat mengembangkan kemampuan dalam mengkaji dan memenuhi kebutuhan; komunikasi menjadi lebih jelas, terbuka, dan terfokus pada masalah; membantu menciptakan lingkungan yang dapat mengurangi kecemasan.





















BAB III
PENUTUP
1.    Kesimpulan
ü  Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yg direncanakan secara sadar, bertujuan dan dipusatkan untuk kesembuhan pasien. Komunikasi terapeutik mengarah pada bentuk komunikasi interpersonal.
ü  Adapun beberapa tujuan dari komunikasi terpeutik yang dilakukan oleh perawat maupun tim medis lainya adalah sebagai berikut:
§  Membantu pasien memperjelas dan mengurangi beban perasaan serta pikiran.
§  Membantu mengambil tindakan yang efektif untuk pasien.
§  Membantu mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan diri sendiri.
ü  manfaat dari komunikasi terapeutik adalah :
§  Mendorong dan menganjurkan kerjasama antara perawat-pasien.
§  Mengidentifikasi, mengungkap perasaan dan mengkaji masalah serta mengevaluasi tindakan yang dilakukan bidan.
§  Memberikan pengertian tingkah laku pasien dan membantu pasien mengatasi masalah yang dihadapi.
ü  Adapun komunikasi terapeutik mempunyai unsur sebagai berikut :
1) Ada sumber proses komunikasi;
 2) Pesan disampaikan dengan penyandian balik (verbal & non verbal);
3) Ada penerima;
 4) Lingkungan saat komunikasi berlangsung
ü  Komunikasi terapeutik mempunyai prinsip – prinsip antara lain :
o   Perawat  sebagai tenaga kesehatan harus mengenal dirinya sendiri,
o   Komunikasi ditandai dengan sikap menerima, percaya dan menghargai,
o   Perawat  sebagai tenaga kesehatan harus paham, menghayati nilai yang dianut pasien,
o   Perawat  sebagai tenaga kesehatan harus sadar pentingnya kebutuhan pasien,
ü  Komunikasi terapeutik yang terjadi antara perawat dan klien harus melalui empat tahap meliputi :
a. Fase pra-interaksi
Fase pra-interaksi merupakan masa persiapan sebelum berhubungan dan berkomunikasi dengan klien
b. Fase orientasi
Fase orientasi atau perkenalan merupakan fase yang dilakukan perawat pada saat pertama kali bertemu atau kontak dengan klien
c. Fase kerja
Fase kerja merupakan inti dari keseluruhan proses komunikasi terapeutik (Stuart,1998). Fase kerja merupakan inti dari hubungan perawat dan klien yang terkait erat dengan pelaksanaan rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang dicapai.
d. Fase terminasi
Terminasi merupakan akhir dari pertemuan perawat dan klien.

2.    Saran
Komunikasi  terapeutik ini perlu sekali dilakukan oleh para tenagamedis terhadap pasien dalam gejala dan gangguan apapun. Karena selain untuk membantu dalam proses penyembuhan terapi ini pun membina hubungan social antara pasien dan tenaga medis.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar